# Penanda Buku yang Tak Pernah Ia Pindahkan

Cerita pendek orisinal tentang Amina, Al-Qur'an milik ibunya, dan pertanyaan seorang anak perempuan yang membuka jalan untuk kembali membaca setelah kehilangan.

Canonical URL: https://quran.blog/id/articles/the-bookmark-she-never-moved-id
Author: Quran Learning Desk (https://quran.blog/authors/quran-learning)
Publisher: Quran Blog (https://quran.blog/)
Published: 2026-10-04T14:40:40.014Z
Modified: 2026-10-19T16:32:07.445Z
Language: id
Editorial principles: https://quran.blog/editorial-policy
Terms: https://quran.blog/terms

---

*Karya fiksi orisinal. Tokoh dan percakapan merupakan rekaan; rujukan Al-Qur'an disebutkan di bawah.*

Penanda buku itu adalah daftar belanja.

Beras. Kacang lentil. Sabun. Jeruk, kalau bagus.

Ibunya menulis daftar itu di balik tagihan listrik, melipat kertasnya dua kali agar muat di antara halaman. Amina masih ingat pernah memprotesnya. Ada penanda buku sungguhan di laci. Bahkan ada pita sutra hijau yang dijahit pada Al-Qur'an itu sendiri.

“Ini yang paling dekat,” kata ibunya waktu itu.

Tiga tahun kemudian, daftar itu masih berada di sana.

Amina membersihkan debu dari sampulnya setiap Jumat. Ia menyimpan kitab itu di rak paling atas, jauh dari uap dapur dan jendela yang terkadang kemasukan air hujan. Ketika tamu memperhatikannya, ia mengatakan bahwa kitab itu dahulu milik ibunya. Mereka merendahkan suara, lalu ia mengganti topik pembicaraan.

Ia sudah sangat pandai merawat kitab yang tak sanggup ia buka.

Suatu Kamis malam, putrinya menyeret kursi melintasi lantai dapur.

“Kamu sedang apa?” tanya Amina.

“Mengambil Al-Qur'an Nenek.”

“Biarkan. Nanti kamu jatuh.”

Maryam turun. Pada usia delapan tahun, ia masih begitu cepat menurut sehingga Amina merasa lebih tidak enak sesudahnya.

“Kalau begitu, Ibu bisa mengambilkannya?”

“Kenapa?”

“Aku ingin membacanya bersama Ibu.”

Amina kembali menghadap bak cuci. Sebuah sendok terjatuh ke dalam cangkir, dan ia menghabiskan waktu lama untuk mencoba mengeluarkannya.

“Kamu ada pelajaran hari Sabtu.”

“Aku tahu.”

“Gurumu akan membantumu.”

“Aku ingin bersama Ibu.”

Sendok itu berhasil dikeluarkan. Amina meletakkannya di samping keran.

Ia tahu cara menangani pekerjaan rumah yang belum selesai, kaus kaki yang hilang, sakit perut tengah malam. Ia bisa menjelaskan mengapa bulan seolah mengikuti mobil mereka. Ia bisa menjahit saku jaket sekolah begitu rapi hingga Maryam tidak pernah menemukan bekas sobekannya.

Namun ini hanyalah permintaan kecil, dan ia tak mampu membuat dirinya mengiyakan.

“Malam lain saja,” katanya.

Maryam mengangguk, mengembalikan kursi, lalu mulai bercerita tentang sesuatu yang terjadi di sekolah. Amina menyimak dengan perhatian yang terlalu sungguh-sungguh. Ia tertawa terlambat sedetik.

Malam itu, setelah putrinya tertidur, ia berdiri di depan rak.

Terakhir kali ia membaca di samping ibunya, ia sedang terburu-buru. Selalu saja ada sesuatu. Bus yang harus dikejar. Pesan yang harus dibalas. Panci yang tertinggal di atas kompor.

Ibunya menghentikannya pada satu kata dan memintanya mencoba lagi.

“Kamu tahu kata itu,” katanya. “Coba beri waktu sebentar.”

Amina mencoba. Lalu ia melihat jam.

Ia mengingat lirikan itu lebih jelas daripada kata tersebut. Selama tiga tahun ia berharap bisa kembali ke saat itu dan meninggalkan ponselnya di ruangan lain.

Kini ia mengulurkan tangan ke atas, mengambil Al-Qur'an, lalu duduk di meja dapur.

Tanpa sengaja, ia membukanya di tempat kertas itu terselip.

Surah Az-Zumar. Ayat 53.

Ia mengenali bagian itu. Bertahun-tahun sebelumnya, mereka membaca terjemahannya bersama, dan ibunya memintanya membaca ayat berikutnya juga agar mereka dapat mengikuti rangkaian ayat tersebut, bukan berhenti pada kalimat yang mereka sukai.

Malam ini Amina menemukan terjemahannya di ponsel. Satu baris menahan perhatiannya: “Do not lose hope in Allah's mercy.”

Ia membaca ayat-ayat di sekitarnya. Ayat-ayat itu berbicara tentang rahmat, tobat, dan kembali kepada Allah. Ia duduk merenungkannya sejenak. Lalu ia kembali memandang tagihan yang terlipat itu.

Beras. Kacang lentil. Sabun.

Selama ini, ia memperlakukannya sebagai catatan tentang momen terakhir. Padahal ibunya sedang merencanakan makan malam. Ibunya memperkirakan akan membutuhkan sabun. Ia berniat memilih jeruk, mungkin merasa kecewa dengan kantong pertama dan bertanya kepada penjual apakah ada yang lain.

Amina hampir tersenyum. Lalu ia menangis.

Tak ada siapa pun yang menyuruhnya tabah, jadi ia tidak berusaha tabah. Ia menangis sampai hidungnya tersumbat dan segelas air di sampingnya menjadi hangat.

Sebelum tidur, ia meletakkan Al-Qur'an di meja agar Maryam dapat melihatnya pada pagi hari.

Putrinya melihatnya sebelum memperhatikan sarapan.

“Kita akan membaca?”

“Sepulang sekolah. Sedikit.”

“Dari bagian Nenek?”

Amina menyentuh kertas yang terlipat itu.

“Dari bagian yang kamu kenal. Kamu boleh memilih.”

Maryam memilih surah pendek yang sedang dipelajarinya. Ia memilih kursi di samping ibunya, meskipun biasanya lebih menyukai kursi yang menghadap jendela. Ia memilih langsung memulai, dengan tas sekolah masih di punggung.

“Tasmu,” kata Amina.

“Oh, iya.”

Maryam menjatuhkannya ke lantai dan mulai lagi.

Pada ayat ketiga, bacaannya tersendat. Amina menunggu. Radiator berbunyi tik-tik. Sebuah mobil lewat di luar. Maryam mencoba kata itu untuk kedua kalinya, lalu menoleh ke samping meminta bantuan.

Amina teringat bagaimana dahulu ia sendiri memandang ibunya di seberang meja yang sama ini.

“Coba beri waktu sebentar,” katanya.

Maryam mencoba sekali lagi. Kali ini kata itu berhasil terucap.

Mereka membaca selama enam menit. Mungkin tujuh. Ada kesalahan yang bisa Amina bantu perbaiki, dan ada kesalahan lain yang ia sendiri belum yakin. Ia mencatat yang satu itu untuk pelajaran hari Sabtu.

Ketika mereka selesai, Maryam tetap duduk di kursinya.

“Apakah Nenek tahu semuanya?”

“Tidak.”

“Aku kira Nenek tahu.”

“Nenek tahu banyak. Nenek masih belajar.”

Maryam memikirkannya. “Bahkan ketika Nenek sudah tua?”

“Bahkan saat itu.”

“Lama sekali ya belajarnya.”

“Memang.”

Putrinya tampak puas. Ia mengambil tas sekolahnya dan pergi mencari camilan.

Amina tetap duduk di meja. Ia mengira membaca kembali akan terasa seperti merusak sesuatu. Namun, sebagian besar menit itu justru ia habiskan dengan menyimak putrinya saksama. Ia masih bisa mengingat suara ibunya. Ia juga bisa mendengar suara Maryam.

Malam berikutnya, mereka lupa.

Amina bekerja hingga larut. Maryam menumpahkan sup ke atas pekerjaan rumahnya. Menjelang tidur, mereka sudah lelah dan kesal, sementara Al-Qur'an terletak tak terbuka di antara lembar izin dan sebungkus tisu.

Pada Sabtu pagi, Amina melihatnya dan merasakan kekecewaan lama mulai muncul. Sudah begini, pikirnya.

Lalu Maryam masuk ke dapur dengan hanya memakai satu kaus kaki.

“Bisa kita membaca sebelum pelajaranku? Aku ingin menunjukkan kepada Ibu bagian yang sudah kulatih.”

“Kemarin kita tidak membaca.”

“Aku tahu. Sekarang bisa?”

Amina menarik sebuah kursi.

Selama pekan-pekan berikutnya, mereka membaca pada beberapa malam dan melewatkan malam-malam lainnya. Kadang Maryam menjadi tidak sabar. Kadang Amina juga. Suatu kali, bagian yang sudah dikenalnya membuat Amina menangis, dan ia harus menjelaskan bahwa Maryam tidak melakukan kesalahan apa pun. Mereka berhenti untuk minum teh dan kembali membacanya keesokan hari.

Kitab itu mendapat tempat dalam kehidupan sehari-hari mereka. Ada pertanyaan-pertanyaan untuk guru yang diselipkan di sampingnya. Pensil hijau Maryam menggelinding ke bawahnya. Amina mulai meninggalkan ponselnya di meja dapur ketika mereka duduk.

Suatu malam, putrinya menemukan daftar belanja itu.

“Ini tulisan Nenek?”

“Ya.”

“Seperti tulisan Ibu.”

Amina mengambil kertas itu. Belum pernah ada yang mengatakan hal tersebut. Ia mengamati huruf-huruf yang ramping, ekor kata terakhir yang ditulis tergesa-gesa. Lalu ia melihat catatan untuk sekolah yang ditulisnya pagi itu.

“Sedikit,” katanya.

“Kita akan menyimpannya?”

“Ya.”

“Tapi kita sudah melewati halaman itu.”

Sesaat, Amina ingin meletakkannya kembali tepat di tempat semula. Ia mengenal lipatannya, sudutnya, potongan kecil kertas yang terlihat di atas halaman. Sudah begitu lama ia menjaga semua itu tetap sama.

Sebagai gantinya, ia menemukan sebuah amplop di laci. Ia memasukkan daftar itu ke dalamnya dan menulis nama ibunya di bagian depan.

Maryam memperhatikannya. “Sekarang kita pakai apa?”

“Ada pita.”

Putrinya memeriksa sutra hijau itu dan menandai bagian tempat mereka berhenti. Lalu ia menutup kitab dengan hati-hati, menggunakan kedua tangannya.

Amina menyimpan amplop itu. Di meja dapur, ia merobek selembar kertas baru dari blok catatan kecil yang mereka gunakan untuk belanja.

Beras. Kacang lentil. Sabun.

Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan jeruk.

“Kalau bagus,” katanya.

“Aku boleh ikut?” tanya Maryam.

“Ya. Besok.”

---

[Rujukan Al-Qur'an](<https://quran.com/39/53-55>)* — Kutipan terjemahan singkat ini berasal dari Surah Az-Zumar 39:53, diterjemahkan oleh Dr. Mustafa Khattab dalam The Clear Quran, sebagaimana ditampilkan di Quran.com. Baca ayat-ayat 53–55 bersama-sama untuk memahami rangkaian ayat di sekitarnya. Cerita ini merupakan refleksi fiktif, bukan tafsir atau kisah tentang orang-orang nyata.*

## Bacaan setelah cerita

Sebagai pendamping praktis bagi kisah fiktif Amina yang kembali membaca, panduan-panduan ini menawarkan sesi membaca awal yang kecil dan cara berefleksi tanpa mengubah tanggapan pribadi menjadi tafsir.

Lanjutkan dengan [Cara Kembali Membaca Al-Qur'an Setelah Lama Berhenti](<https://quran.blog/id/articles/returning-to-quran-reading-after-a-break-id>) atau [Renungan atas Al-Qur'an dan Tafsir: Cara Menjaga Perbedaannya](<https://quran.blog/id/articles/reflection-and-tafsir-two-kinds-of-reading-id>).
